Loading Screen V2

Gulma Juga Sumber Daya

Bagaimana gulma dari lahan petani diolah menjadi kompos organik dan tumbuh menjadi bagian dari siklus ekonomi yang berkelanjutan.

Kelompok Tani Binaan GFI di Desa Sebangau Mulya, Kalimantan Tengah, Indonesia

Dalam menjalankan inisiatif reforestasi, kami sadar perjalanan ini tidak bisa terlepas dari upaya pengembangan masyarakat. Prinsip ini menjadi salah satu prioritas kami untuk mencapai hutan yang baik demi masa depan yang lebih berkelanjutan.

Dalam melakukan pendampingan, kami melaksanakan dua kegiatan yaitu Sekolah Lapang Petani dan Pendampingan Kelompok Tani. Kedua kegiatan ini dilaksanakan sebagai komitmen kami untuk memperkuat kapasitas petani serta mendorong mereka untuk selalu menerapkan praktik agroforestri yang berkelanjutan. Setiap materi yang diberikan senantiasa diiringi dengan dorongan tentang pentingnya kontribusi masyarakat lokal terhadap lingkungan.

Salah satu inisiatif yang kemudian dipraktikkan secara berkala oleh Kelompok Tani adalah memanfaatkan rerumputan, gulma, dan sampah organik di sekitar mereka menjadi kompos organik. Petani membawa gulma dan sampah organik untuk dikumpulkan pada saat pertemuan bulanan dan bersama-sama mengolahnya menjadi kompos organik. Kompos organik yang dibuat akan disimpan selama 1-2 bulan dan kemudian dipanen bersama saat sudah siap.


Perubahan Sudut Pandang Hingga Lahirnya Siklus Ekonomi Berkelanjutan

Pendampingan yang kami lakukan mulai menunjukkan dampak nyata di lapangan. Kompos organik yang dihasilkan memberikan manfaat bagi petani antara lain mengurangi biaya pembelian pupuk, mengurangi penggunaan pupuk kimia, dan membantu meningkatkan kesuburan tanah. Melihat manfaat ini, Kelompok tani dampingan GFI di Sebangau Kuala berinisiatif untuk secara kontinu memproduksi kompos organik. Beberapa petani juga mencoba membuat pupuk organik secara mandiri.

Sampai dengan hari ini kompos yang dihasilkan oleh kelompok telah mencapai lebih dari ±25 liter kompos cair dan ±380 kilogram kompos padat. Kompos yang dihasilkan dijual kepada anggota kelompok. Pendapatan penjualan hasil produksi kompos akan masuk kas kelompok yang kembali diputar dengan sistem simpan-pinjam sederhana untuk anggota. Sistem ini membantu mengembangkan modal kelompok sekaligus membantu meringankan kebutuhan pertanian mereka. Dari sini, inisiatif sederhana mulai membentuk siklus ekonomi yang terus berputar dalam komunitas dan meningkatkan kerjasama antar anggota.

Para anggota bersama-sama mencampur seluruh bahan organik setelah gulma dan rerumputan dicacah dengan menggunakan mesin pencacah

“Kelompok kami membuka layanan pinjaman ke anggota dengan bunga yang rendah dan bunga tersebut menurun setiap bulannya. Hasilnya akan kembali ke Kas kelompok yang nantinya akan dibagikan ke Anggota dengan sistem SHU (Sisa Hasil Usaha). Dengan begitu, manfaat bisa dirasakan oleh semua anggota,” ujar Dapin Sutrio, Ketua Kelompok Tani Desa Sebangau Mulya.

“Petani di sini biasanya tidak berani meminjam banyak. Contohnya, mereka meminjam Rp200,000, nanti setiap bulannya mereka akan dikenakan bunga sebesar 5% dari besaran pinjaman. Bunga tersebut akan menurun di bulan berikutnya, jadi sangat ringan bagi anggota. Ide ini hadir dari pengalaman kami saja, dan supaya anggota bisa merasakan manfaat dari kelompok,” ujar Vina Pujiati, Bendahara Kelompok Tani Desa Sebangau Mulya.

Anggota Kelompok Tani Binaan GFI menyelenggarakan arisan tradisional sebagai kegiatan silaturahmi untuk mempererat kekeluargaan antar anggota

Penerapan sistem ini mengutamakan asas kekeluargaan yang bertujuan dari anggota untuk anggota. Jika petani ingin memerlukan dana untuk kebutuhan pertaniannya, mereka bisa mengajukan pinjaman dengan tenor yang sesuai dengan kemampuan petani.


Pengetahuan Menjadi Aksi, Aksi Menjadi Perubahan di Masa Depan

Para anggota foto bersama dengan hasil produksi kompos organik yang mereka hasilkan dan membawanya pulang untuk digunakan di lahan mereka masing-masing.

Inisiatif ini menunjukkan bahwa perubahan dapat dimulai dari pengetahuan sederhana. Ketika gulma yang selama ini dianggap sebagai limbah diolah menjadi bahan organik dan dimanfaatkan kembali, pengetahuan berubah menjadi aksi yang memperkuat kemandirian petani dan kepedulian untuk melakukan pertanian yang lebih peduli lingkungan.

Reforestasi bukan hanya tentang menanam pohon, tetapi juga tentang membangun pengetahuan dan kemampuan masyarakat untuk merawat lahannya. Dari aksi kecil yang dilakukan bersama, tumbuh komunitas yang makin mandiri dan siap untuk memulihkan dan menjaga hutannya.

Karena hutan yang baik adalah solusi iklim.


Scroll to Top