Loading

Ketika Hutan Hilang, Badai Menjadi Jauh Lebih Parah: Peringatan Besar dari Peristiwa Cuaca Ekstrem di Asia Selatan dan Tenggara 2025

Peristiwa cuaca ekstrem di Asia Selatan dan Tenggara pada tahun 2025 menjadi peringatan signifikan tentang bagaimana perubahan iklim semakin memburuk dari hari ke hari.

Citra berwarna asli ini, yang diambil oleh Copernicus Sentinel-2 pada hari Sabtu, 29 November 2025, di wilayah sebelah timur kota Lhokseumawe, di pantai utara provinsi Aceh di pulau Sumatra, Indonesia.

Kabar buruk bermunculan dari Asia Selatan dan Tenggara, karena peristiwa cuaca ekstrem yang telah terjadi satu demi satu sejak awal tahun lalu. Hujan lebat, banjir bandang, tanah longsor, dan badai telah melanda banyak wilayah di Asia Selatan dan Tenggara. Kejadian ini telah menyebabkan hilangnya nyawa dan kerusakan di banyak wilayah.

Krisis mencapai puncaknya pada November 2025, dipicu oleh Siklon Tropis Senyar yang kuat, serta siklon simultan lainnya di tengah kondisi Monsun Timur Laut dan La Niña1,2. Data baru menunjukkan bahwa lebih dari 1.800 orang di Malaysia, Thailand, Sri Lanka, dan Indonesia meninggal dalam peristiwa banjir ekstrem selama November dan Desember 2025, dengan jumlah korban jiwa diperkirakan akan meningkat seiring dengan upaya kemanusiaan yang terus berlanjut3.

Di Indonesia, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BPBN) melaporkan hingga akhir November 2025, sekitar 70% dari semua bencana yang terjadi di seluruh negeri adalah banjir atau peristiwa cuaca ekstrem lainnya4. Pulau Sumatera menjadi lokasi di Indonesia yang paling parah terdampak, terutama di bagian utara. Hingga 30 Desember 2025, mereka juga melaporkan 1.141 orang meninggal, dan 163 orang masih hilang5.



Masjid Taqwa Muhammadiyah di Huta Godang, Sumatera Utara, Indonesia terkena dampak banjir. (Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Public domain, via Wikimedia Commons)

Banjir mematikan di Asia Selatan dan Tenggara ini bukan hanya tentang curah hujan yang deras dan peristiwa cuaca ekstrem. Para ahli dan badan internasional mengaitkan intensitas bencana yang luar biasa ini dengan "contoh terbaru" dampak krisis iklim terhadap pola badai dan cuaca ekstrem. Namun, jika terjadi di tempat-tempat yang masih memiliki hutan, badai akan terasa berbeda.

Hutan adalah ekosistem yang dapat melindungi bumi dan segala isinya. Pohon-pohon yang tumbuh di tanah yang sehat menciptakan sistem hidrologi yang berfungsi dan meluas dari tanah hingga ke atmosfer. Pohon-pohon ini melindungi Bumi melalui proses alami, seperti akar pohon yang menyediakan jalur bagi air untuk meresap ke dalam tanah dan tajuk pohon yang memperlambat jatuhnya air untuk mencegah erosi.

Proses kehidupan pohon di dalam hutan dapat bertindak sebagai pelindung bagi Bumi, mengurangi risiko parah yang disebabkan oleh siklus cuaca ekstrem. Pertahanan alami ini berasal dari hal-hal sederhana yang dilakukan pohon setiap hari. Namun, jika hutan hilang dan lahan menjadi terdegradasi, kapasitas hutan dapat berkurang. Inilah yang menyebabkan bumi mengalami bencana alam yang semakin dahsyat dari waktu ke waktu.

Peristiwa cuaca ekstrem saat ini merupakan peringatan penting tentang bagaimana siklus cuaca ekstrem dapat diperburuk oleh krisis iklim. Restorasi hutan dapat menjadi jawaban untuk menyembuhkan lanskap alam yang berduka. Kembali ke alam tentu membutuhkan waktu, tetapi dapat membangun kekuatan yang bertahan lama.

Dengan memulihkan lanskap dan melakukan reforestasi di lahan terdegradasi, kita dapat mengembalikan fungsi hutan bagi Bumi. Tentu saja, tanpa mengabaikan komunitas lokal, kita bisa menumbuhkan rasa kepedulian terhadap alam dan hutan, serta memperkuat sistem alam yang melindungi kita dari banjir, badai, kekeringan, hingga bencana alam yang lebih parah lainnya.

Satu bibit pohon memang terlihat kecil, namun jika bersama-sama, pohon-pohon tersebut mampu menumbuhkan dampak yang besar. Mari kita tanam pohon sekarang juga, demi masa depan yang lebih baik!


Scroll to Top