Loading

Workshop Penutupan Youth Program (Sakula Budaya) & Refleksi Implementasi Program Good Forest Indonesia

Good Forest Indonesia bersama Pemerintah Daerah dan Borneo Institute membuka acara Workshop Penutupan Youth Program dan Evaluasi Program GFI pada Senin, 04/05/2026

Palangka Raya, [12/05] – Yayasan Good Forest Indonesia sukses menyelenggarakan Workshop Penutupan Youth Program (Sakula Budaya) dan Refleksi Implementasi Program Good Forest Indonesia pada Senin-Selasa (4-5/05) di Hotel Aquarius, Palangka Raya.

Dalam workshop ini, para pemangku kepentingan hadir untuk berdiskusi, dan berbagi pembelajaran dalam mendukung keberlanjutan pendidikan lingkungan bagi generasi muda, serta upaya rehabilitasi lahan dan hutan di Kalimantan Tengah.

Kegiatan ini menghadirkan perwakilan pemerintah tingkat kabupaten dan provinsi, sekolah, komunitas, mitra pembangunan, serta seluruh peserta Youth Program (Sakula Budaya) dengan tujuan memperkuat kolaborasi antar lintas sektor.

Acara ini menjadi momentum penting untuk merefleksikan capaian program Good Forest Indonesia sejak 2023, sekaligus mendiskusikan arah pengembangan dan keberlanjutan inisiatif lingkungan di Kalimantan Tengah ke depan.


Penampilan Tari Daerah asal Kalimantan Tengah dari Sanggar Youth Program (Sakula Budaya) Desa Sumur Mas

Dalam workshop ini juga dilaksanakan refleksi implementasi Youth Program (Sakula Budaya) periode 2023-2026. Bersama mitra kami, Borneo Institute Foundation, Youth Program (Sakula Budaya) dilaksanakan sejak tahun 2023 dan tersebar di berbagai desa di 2 (dua) kabupaten di Kalimantan Tengah. Inisiatif ini merupakan langkah kesadaran bahwa upaya pengenalan dan pemulihan lingkungan bisa dimulai sejak usia dini.

Pendekatan yang digunakan dalam melaksanakan program ini adalah dengan mengajarkan isu lingkungan yang diintegrasikan dengan nilai-nilai budaya lokal. Harapannya, program ini dapat melahirkan agen-agen perubahan di tingkat desa yang memiliki kepedulian terhadap pentingnya menjaga alam yang sangat dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari.

Berdasarkan laporan yang dipaparkan oleh Good Forest Indonesia bersama Borneo Institute, Youth Program (Sakula Budaya) berhasil memberikan dampak kepada 453 murid anak-anak berusia 9–13 tahun, yang terdiri dari 177 murid laki-laki dan 276 murid perempuan. Anak-anak ini merupakan anak-anak yang berasal dari 7 desa di 2 kabupaten, yaitu Desa Linau, Desa Sumur Mas, Desa Sebangau Permai, Desa Sebangau Mulya, Desa Batu Nyapau, Kecamatan Tewah, dan Desa Tanjung Riu.


Fadhillah Hanum, Director of GFI memberikan plakat penghargaan untuk 7 (tujuh) desa asal peserta Youth Program, yaitu Desa Linau, Desa Sumur Mas, Desa Sebangau Permai, Desa Sebangau Mulya, Desa Batu Nyapau, Kecamatan Tewah, dan Desa Tanjung Riu.

Diskusi refleksi dan pengembangan program tidak hanya berfokus pada Youth Program (Sakula Budaya), tetapi juga pada keseluruhan pelaksanaan program Good Forest Indonesia sejak tahun 2023. Hingga saat ini, Good Forest Indonesia berhasil mendistribusikan beragam komoditas kepada petani lokal sebanyak lebih dari 500.000 bibit pohon.

Sebagai bentuk nyata dari pengembangan kapasitas petani lokal di Kalimantan Tengah, Good Forest Indonesia juga membagikan Modul Agroforestri yang Baik untuk Nilam dan Kakao yang sudah disusun bersama dengan praktisi ahli dan akademisi. Buku tersebut dibagikan kepada pemerintah daerah untuk dapat dipelajari oleh seluruh lapisan masyarakat.


Good Forest Indonesia memberikan Modul Agroforestri yang Baik untuk Nilam dan Kakao kepada Dinas Kehutanan Kalimantan Tengah, Unit KPHP Kahayan Hulu, Unit KPHP Kahayan Tengah, KPHP Kahayan Hilir, Dinas Pertanian Kabupaten Gunung Mas, Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga Kabupaten Pulang Pisau, dan Dinas Kebudayaan Kabupaten Gunung Mas.

"Program Sakula Budaya dan Good Forest Indonesia telah membuktikan bahwa pelestarian alam dan budaya di Kalimantan Tengah bisa berjalan beriringan jika didukung oleh kolaborasi yang solid. Keberhasilan ini adalah milik kita bersama, petani, generasi muda, pemerintah, dan mitra lainnya. Kami sangat mengapresiasi dedikasi seluruh pihak yang telah mendukung visi kami hingga hari ini," ungkap Direktur GFI, Fadhillah Hanum.

Semangat kolaborasi lintas sektor menjadi salah satu fondasi utama dalam keberhasilan pelaksanaan program ini. Keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, institusi pendidikan, komunitas adat, organisasi masyarakat sipil, hingga generasi muda, menunjukkan bahwa upaya pelestarian lingkungan dan budaya tidak dapat berjalan secara sendiri-sendiri.

Melalui ruang diskusi, pertukaran gagasan, serta komitmen bersama yang terbangun selama program berlangsung, tercipta harapan baru untuk memperkuat gerakan pemulihan alam yang lebih inklusif dan berkelanjutan di Kalimantan Tengah.

Scroll to Top