Kegiatan TOT berlangsung selama 4 hari, diawali dengan workshop tentang modul dan kurikulum budidaya nilam. Kemudian, peserta mendapatkan materi mengenai teknik dasar budidaya sampai analisis dan strategi bisnis nilam berbasis komunitas. Peserta juga melakukan praktik budidaya nilam mulai dari pembibitan, penanaman, pemupukan hingga pemanenan di lokasi nursery nilam. Pada kesempatan itu, peserta juga belajar tentang pembuatan minyak nilam di lokasi destilasi nilam GFI di Desa Sumur Mas. Kegiatan TOT diakhiri dengan evaluasi dan finalisasi modul yang nantinya akan dipakai untuk Sekolah Lapang Petani di wilayah Kalimantan Tengah.
Saat memberikan materi, Syaifullah menekankan kepada peserta untuk melakukan survei kesesuaian lahan di wilayah Kalimantan Tengah. Hal ini disebabkan karena kondisi lahan dan suhu di Aceh dan Kalimantan Tengah berbeda sehingga akan berpengaruh terhadap proses budidaya nilam. Di samping itu, ia juga menyarankan untuk mengembangkan program pelatihan yang mendorong perubahan pada petani.
“Pastikan untuk membuat program pelatihan yang menarik bagi petani. Tidak hanya berfokus pada pengembangan yang bersifat fisik saja, tetapi juga nonfisik. Berikan motivasi kepada petani bahwa menanam nilam ini akan membawa kebaikan secara ekonomi dan lingkungan dengan konsep zero waste di mana nilam tidak hanya dimanfaatkan minyaknya, namun sisa daun bekas penyulingan juga dapat dimanfaatkan menjadi kompos dan digunakan untuk mengembalikan unsur hara tanah,” ujar profesor asal Aceh itu.